081384838627
WA : 083808510196
BBM : 29DB9ED0

Mengasah Kepekaan Terhadap Anak

Friday, September 8th 2017. | Mengasah Kepekaan Terhadap Anak
UNGKAPAN JUJUR SEORANG ANAK
http://obatantiaging.com/

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD daerah sekolah anak kami. Anak sulung kami yang berjulukan Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.

Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, daerah penggemblengan belum dewasa berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa permasalahannya Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu mencar ilmu di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot.
Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika, “Apa yang kau inginkan?” Dika hanya menggeleng.
“Kamu ingin ibu bersikap menyerupai apa?,” tanya saya. “Biasa-biasa saja,” jawab Dika singkat.
Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta pertolongan seorang psikolog.
Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa ketika kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.
Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (sangat cerdas) di mana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (rata-rata cerdas).
Perbedaan yang mencolok pada dua tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh karena itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke daerah itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.
Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika.
Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.
Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….”
Dika pun menjawab, “Membiarkan saya bermain sesuka hatiku, sebentar saja.”
Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti banyak sekali kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan aktivitas kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata undangan Dika hanya sederhana, diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.
Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”
Dika pun menjawab dengan kalimat yang acak-acakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melaksanakan apa saja menyerupai ia menuntutku melaksanakan sesuatu”.
Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melaksanakan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melaksanakan apa saja setiap hari, menyerupai apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan daerah tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur sempurna waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal menyerupai itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.
Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”
Maka Dika menjawab, “Menganggapku menyerupai dirinya.”
Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin mengakibatkan Dika persis menyerupai diri saya. Saya dan banyak orang renta lainnya seringkali ingin mengakibatkan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak yaitu orang cukup umur dalam bentuk sachet kecil.
Ketika Psikolog menunjukkan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak….”
Dika pun menjawab, “Tidak menyalahkan saya di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang saya buat yaitu dosa.”
Tanpa disadari, orangtua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, sampai hampir-hampir tak memberi daerah kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orangtua menganggap bahwa setiap kesalahan yaitu dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan gres akan muncul karena orangtua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.
Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya belum dewasa perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa mencar ilmu dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.
Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara wacana …..”
Dika pun menjawab, “Berbicara wacana hal-hal yang penting saja”.
Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, menyerupai menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan tanggapan Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran wacana kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.
Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara wacana …..”,
Dika pun menuliskan, “Aku ingin ayahku berbicara wacana kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling mahir dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku.”
Memang dalam banyak hal, orangtua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orangtua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika bahwasanya sederhana, yaitu ingin orangtuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan jikalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, menyerupai apa yang diajarkan orang renta kepadanya.
Ketika Psikolog menyodorkan goresan pena “Aku ingin ibuku setiap hari …..”
Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar, “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat menyerupai ia mencium dan memeluk adikku”.
Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap diperlukan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang renta yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh belum dewasa diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.
Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari….”
Dika menuliskan sebuah kata sempurna di atas titik-titik dengan satu kata, “Tersenyum.”
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal senyum nrimo seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi belum dewasa dalam melaksanakan segala sesuatu menyerupai yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.
Ketika Psikolog menunjukkan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku. …”
Dika pun menuliskan, “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”
Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.
Ketika Psikolog menyodorkan goresan pena yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..”
Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam bahasa Indonesia atau bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling,” kata suami saya.
Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi aib karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice”, sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak yaitu Kewajiban, bukan Pilihan”.
Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena sudah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang renta kadang-kadang gembira dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.
Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang renta tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orangtua harus mendidik anaknya di dalam anutan dan nasehat yang baik. Semoga bermanfaat bagi kita semua, para orang renta dari putra/putri kita masing-masing. 
Sahabat semuanya, bagaimana menurut Anda?
tags:

Artikel lain Mengasah Kepekaan Terhadap Anak